Kamis, 21 April 2011

Books Review “ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT DAN ETIKA”


                  Books Review
                   “ALIRAN-ALIRAN
                   FILSAFAT
                    DAN ETIKA”  
                                        Karya: Prof. Dr. Juhaya S. Praja

Diajukan untuk memenuhi tugas materi “Studi Integrasi Sains dan Islam” (Filsafat Ilmu) dengan dosen pembimbing Bapak: Dr. Ahmad Barizi, M.A
Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Oleh, Andy Firmansyah
(NIM. 10710001)
Program Pasca Sarjana
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
April 2011

BAB I
PENDAHULUAN

Pengantar
Buku yang direview ini berjudul Aliran-aliran Filsafat dan Etika Karya Prof. Dr. Juhaya S. Praja. Buku ini diterbitkan olah Prenada Media cetakan ke 2 terdiri dari 210 halaman meliputi; 24 halaman terdiri dari 2 halaman cover dan pengesahan, 2 halaman pengantar penulis, 1 halaman daftar isi. Buku ini terbagi ke dalam 19 poin pembahasan, 4 halaman daftar pustaka.

Latar Belakang
Prof. Juhaya S. Praja adalah Guru Besar dan Pembantu Rektor V, Urusan Luar Negeri IAIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung. Ia pernah menjadi peneliti dan dosen tamu di Amerika atas sponsor AMINEF dan Fulbright. Buku-bukunya yang telah terbit; Aliran-Aliran Filsafat dari Rasionalisme sampai Sekularisme; Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam; Metode Tasawuf Menurut Syariah, Aliran-aliran Filsafat dan Etika dan lain-lain.
Mempelajari filsafat dan etika sangat berguna untuk memahami bagaimana manusia berpikir dan bertindak. Pemikiran dan tindakan manusia sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh aliran filsafat yang dianutnya serta etika yang dipahaminya. Mengingat pemikiran filsafat sangat beragam, maka cara mudah mempelajarinya adalah dengan mengklasifikasi aliran-aliran utamanya, sehingga dengan mereview  Buku Aliran-Aliran Filsafat dan Etika Karya Prof. Dr. Juhaya S. Praja dapat menjawab masalah filsafat dan etika.

Pembahasan
Berdasarkan isi buku  Aliran-aliran Filsafat dan Etika Karya Prof. Dr. Juhaya S. Praja, maka penulis lebih menitikberatkan review pada permasalahan:
1. Pengertian Filsafat dan Pembahasan tentang Objek, Metodologi, dan Struktur  Filsafat.
2. Pengertian Etika dan pembahasan tentang Objek dan Metode Etika
3. Keterkaitan antara Ilmu, Filsafat dan Agama; Tinjauan Perbedaan, Persamaan dan Titik Temunya
4. Pembahasan tentang berbagai macam Aliran-aliran Filsafat dan Etika

Selanjutnya review buku  Aliran-aliran Filsafat dan Etika Karya Prof. Dr. Juhaya S. Praja akan diuraikan sebagai berikut:
1. Pengertian Filsafat dan Etika serta Pembahasan tentang Objek dan Metodologi  Filsafat
a. Pengertian Filsafat
Filsafat- diambil dari bahasa Arab, Falsafah- berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang terdiri dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, Sophia yang artinya bijaksana. Dengan demikian, secara etimologis kata filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Orangnya disebut  Philosopher atau Failasuf. [1]
Filsafat adalah “metodologi berpikir”, yaitu berpikir kritis-analitis dan sistematis. Filsafat lebih mencerminkan “proses” berpikir dan bukan sekedar “produk” pemikiran.[2]
Secara terminologis, filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam, sebanyak orang memberikan pengertian atau batasan, bisa dibaca pada halaman 2, akan tetapi gambaran jelas mengenai pengertian filsafat berdasarkan pendapat Titus sebagai berikut:[3]
·      Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam, biasanya diterima secara kritis. Definisi ini merupakan arti yang menunjukkan sikap informal terhadap apa yang dialami berkaitan dengan filsafat atau kata-kata “mempunyai filsafat”.
·      Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti formal dari “berfilsafat”. Dua arti filsafat, “memiliki” dan “melakukan” tidak dapat dipisahkan sepenuhnya satu dari yang lain. Suatu sikap falsafi yang benar adalah sikap yang kritis dan mencari. Sikap itu sikap terbuka dan toleran dan mau melihat segala sudut persoalan tanpa prasangka.
·      Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Filsafat berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman manusia sehingga menjadi suatu pandangan yang konsisten tentang alam.
·      Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Ini merupakan tugas filsafat melalui metode analisis berusaha untuk menjelaskan arti istilah-istilah dan pemakaian bahasa.
·      Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Filsafat mendorong penyelidikannya sampai kepada soal-soal yang mendalam dari eksistensi manusia. Sebagian soal-soal filsafat pada zaman dahulu telah terjawab dengan jawaban yang memuaskan kebanyakan ahli filsafat. Walapun demikian banyak soal yang sudah terjawab hanya untuk sementara, bahkan masih banyak juga problema yang belum terjawab.
b. Pembahasan tentang Objek dan Metodologi  Filsafat
Objek penyelidikan filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, tidak terbatas yang disebut juga dengan objek material filsafat. Seorang filsuf berpikir dan merenung untuk menemukan persoalan yang memenuhi benaknya. Ia berpikir sedalam-dalamnya, sampai ke akar-akarnya untuk mencari hakikat sesuatu.
Prof. Juhaya juga menyimpulkan bahwa penyelidikan filsafat memiliki sifat-sifat:
1)   Menyeluruh, artinya filsafat melihat atau memandang objeknya secara menyeluruh (totalitas)
2)   Mendasar, artinya filsafat menyelidiki objeknya sampai ke akar-akarnya, sampai ditemukannya hakikat sesuatu yang diselidiki
3)   Spekulatif, artinya hasil yang diperoleh dari penyelidikan filsafat baru berupa dugaan-dugaan (yang logis, masuk akal dan rasional, bukan dugaan yang hampa) bukan kepastian
Metodologi Filsafat yang digunakan untuk memecahkan problema-problema filsafat, yaitu:
1)   Metode Deduktif. Merupakan metode berpikir dimana suatu kesimpulan ditarik dari prinsip-prinsip umum dan kemudian diterapkan kepada sesuatu yang bersifat khusus. Contoh:
Semua manusia adalah fana (Prinsip umum)
Semua raja adalah manusia (Peristiwa khusus)
Karena itu semua raja adalah fana (Kesimpulan)
2) Metode Induksi. Suatu metode berpikir dimana suatu kesimpulan ditarik dari suatu prinsip khusus dan kemudian diterapkan kepada sesuatu yang bersifat prinsip umum. Contoh:
Amir  adalah manusia (Prinsip khusus)
Ia (Si amir) akan mati (Peristiwa yang bersifat umum)
Seluruh manusia akan mati (Kesimpulan)
3) Metode Dialektik. Yaitu suatu cara berpikir dimana suatu kesimpulan diperoleh melalui tiga jenjang penalaran: tesis, antitesis dan sintesis. Metode ini berusaha mengembangkan suatu contoh argumen yang didalamnya terjalin implikasi bermacam-macam proses (sikap) yang saling mempengaruhi. Argumen tersebut akan menunjukkan bahwa tiap proses tidak menyajikan pemahaman yang sempurna tentang kebenaran. Dengan demikian, timbullah pandangan dan alternatif yang baru.  
2. Pengertian Etika dan Pembahasan tentang Objek dan Metode Etika
a. Pengertian Etika
Etika merupakan penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari segi baik dan buruknya tingkah laku tersebut. Etika bertugas memberi jawaban atas pertanyaan- pertanyaan berikut: atas dasar hak apa orang menuntut kita untuk tunduk terhadap norma-norma yang berupa ketentuan, kewajiban, larangan dan sebagainya ? Bagaimana kita bisa menilai norma-norma tersebut ? Pertanyaan seperti ini timbul karena hidup kita seakan-akan terentang dalam suatu jaringan  norma-norma.  Jaringan itu seolah-olah membelenggu kita; mencegah kita dari bertindak sesuai keinginan kita; memaksa kita berbuat apa yang sebenarnya kita benci.
Etika mempunyai sifat yang sangat mendasar, yaitu sifat kritis yang menuntut orang agar bersikap rasional terhadap semua norma sehingga etika akhirnya membantu manusia menjadi lebih otonom. Otonomi ini terletak pada pencapaian kebebasan untuk mengakui norma-norma yang diyakininya sendiri sebagai kewajibannya. Etika dibutuhkan sebagai pengantar pemikiran kritis yang dapat membedakan antara apa yang sah dan apa yang tidak sah; membedakan apa yang benar dan apa yang tidak benar.
Dalam Islam etika disebut juga “Islamisasi ilmu-termasuk islamisasi budaya”, yang menurut Sayed Husein Nasr dalam A. Khudori (2004) berarti upaya menerjemahkan pengetahuan modern ke dalam bahasa yang bisa dipahami masyarakat muslim di mana mereka tinggal. Islamisasi ilmu lebih merupakan usaha untuk mempertemukan cara pikir dan bertindak (epistemologis dan aksiologis) masyarakat Barat dengan muslim.[4]
Menurut Hanna Djumhana Bastaman islamisasi ilmu adalah upaya menghubungkan kembali ilmu pengetahuan dengan agama, yang berarti menghubungkan kembali sunnatullah (hukum alam) dengan al-Qur’an, yang keduanya sama-sama ayat Tuhan. Pengertian ini didasarkan atas pernyataan bahwa ayat-ayat (sign) Tuhan terdiri  dari dua hal; (1) ayat-ayat yang bersifat linguistik, verbal dan menggunakan bahasa insani, yakni  al-Qur’an, (2) ayat-ayat yang bersifat non-verbal berupa gejala alam.[5]
b. Objek dan Metode Etika
Objek penyelidikan etika adalah pernyataan-pernyataan moral yang merupakan perwujudan dari pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan moral, yang pada dasarnya terdiri dari 2 macam pernyataan: pertama pernyataan tentang tindakan manusia dan yang kedua adalah pernyataan tentang manusia itu sendiri atau tentang unsure-unsur kepribadian manusia, seperti motif-motif, maksud dan watak.
 Metode Etika yang digunakan dalam menilai pendapat moral meliputi 4 macam pendekatan yaitu:
Pendekatan empiris deskriptif, fakta moral dipastikan adanya, digambarkan bagaimana bentuknya, dibandingkan bentuknya dalam masyarakat yang berlainan, diselidiki sejarahnya, jangkauannya dan seterusnya.
 Pendekatan fenomenologis, memperlihatkan bagaimana kesadaran moral dalam melaksanakan suatu kewajiban. Dengan pendekatan ini juga dapat dikenal kekhususan bidang moral, misalnya perbedaan norma-norma moral dan norma-norma dapat digali. Pendekatan normatif, mempersoalkan apakah suatu norma moral yang diterima umum atau dalam masyarakat tertentu memang tepat ataukah sebetulnya tidak berlaku atau malah harus ditolak,dan
Pendekatan metaetika yang berupa analisis bahasa moral yang berusaha untuk mencegah kekeliruan dan kekaburan dalam penyelidikan  fenomenologis dan normatif dengan cara mempersoalkan arti tepat dari istilah-istilah moral dan mengatur pernyataan-pernyataan moral menurut macamnya serta  mempersoalkan bagaimana suatu pernyataan moral dapat dibenarkan.
3. Keterkaitan Ilmu, Filsafat dan Agama; Tinjauan Perbedaan, Persamaan dan Titik Temunya
Dalam buku yang berjudul Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Juhaya (2005) membuat definisi tentang ilmu, filsafat dan agama. Ilmu adalah sesuatu yang melekat pada manusia di mana ia dapat mengetahui sesuatu yang asalnya tidak ia ketahui. Jadi secara umum sebenarnya ilmu itu berarti tahu/pengetahuan. Seseorang yang banyak ilmunya bisa dikatakan sebagai seorang ilmuwan, ulama, ahli pengetahuan dan sebagainya. Pada dasarnya ilmu/pengetahuan mempunyai tiga kriteria, yaitu ; (a) adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran;(b) persesuaian antara gagasan itu dengan benda-benda sebenarnya; dan (c) adanya keyakinan tentang persesuaian itu.
Adapun filsafat mempunyai arti yang diambil dari kata Philosophia, kata majemuk yang terdiri dari kata Philos yang artinya cinta atau suka dan shopia artinya bijaksana. Dengan demikian kata filsafat memberikan pengertian cinta kebijaksanaan. Orangnya disebut Philosopher atau Failasuf. Secara terminologis, filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam diantaranya yang diungkapkan Al-Farabi (wafat 950 M) seorang filsuf Muslim mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat sebenarnya.
Sedangkan agama memiliki arti yang berasal dari bahasa sansakerta yaitu a-gama, a=tidak; gama=kacau; agama berarti tidak kacau. Dalam arti luas agama mempunyai makna bahwa manusia yang beragama atau menjalankan aturan agama maka hidupnya tidak akan kacau balau.
a. Tinjauan Perbedaan Ilmu dan Filsafat
Dalam perjalanannya filsafat dengan ilmu juga terkadang memiliki pertentangan pada kecondongan atau titik penekanan, bukan pada penekanan yang mutlak. Penekanan itu dapat dilihat dari perbedaan-perbedaan pada tabel berikut:
Ilmu
Filsafat
  • Ilmu lebih analitik dan lebih deskriptif,
  • Ilmu menganalisis seluruh unsur yang menjadi bagian-bagiannya;

  • Jika ilmu berusaha untuk menghilangkan faktor-faktor pribadi,

  • Ilmu lebih menekankan kebenaran yang bersifat logis dan objektif,
  • filsafat lebih sintetik dan sinoptik;

  • sedangkan filsafat berusaha untuk mengembangkan benda-benda dalam sintesa yang interpretatif;
  • sedangkan filsafat lebih mementingkan personalitas, nilai-nilai dan juga bidang pengalaman
  • sedangkan filsafat bersifat radikal dan subjektif;
Tabel 1 Perbedaan-perbedaan antara Ilmu dan Filsafat

b. Persamaan dan Titik Temu antara Ilmu dan Filsafat
Ada beberapa hal dimana filsafat dan ilmu pengetahuan dapat saling bertemu. Dalam beberapa abad terakhir, filsafat telah mengembangkan kerja sama yang baik dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan ilmu pengetahuan kedua-duanya menggunakan metode pemikiran reflektif dalam usaha untuk menghadapi fakta-fakta dunia dan kehidupan. Keduanya menunjukkan sikap kritik, dengan pikiran terbuka dan kemauan yang tidak memihak, untuk mengetahui hakikat kebenaran. Mereka berkepentingan untuk mendapatkan pengetahuan yang teratur.
Ilmu membekali filsafat dengan bahan-bahan yang deskriptif dan faktual yang sangat penting untuk membangun filsafat, ilmu pengetahuan juga melakukan pengecekan terhadap filsafat, dengan menghilangakan ide-ide yang tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah. Sementara filsafat mengambil pengetahuan yang terpotong-potong dari berbagai ilmu, kemudian mengaturnya dalam pandangan hidup yang lebih sempurna dan terpadu. Sebagai contoh tentang konsep evolusi mendorong kita untuk meninjau kembalai pemikiran kita hampir dalam segala bidang.
Kesimpulannya kontribusi yang lebih jauh yang diberikan filsafat terhadap ilmu pengetahuan adalah kritik tentang asumsi, postulat ilmu dan analisa kritik tentang istilah-istilah yang dipakai. Ilmu dan filsafat kedua-duanya memberikan penjelasan-penjelasan dan arti-arti dari objeknya masing-masing. Banyak filsuf yang mendapat pendidikan tentang metode ilmiah dan meraka saling memupuk perhatian dalam beberapa disiplin ilmu.
c. Tinjauan Perbedaan Agama dan Filsafat
Dalam agama ada hal-hal yang penting, misalnya Tuhan, kebijakan, baik dan buruk, surga dan neraka, dan lain-lain. Hal-hal tersebut diselidiki pula oleh filsafat. Oleh karena hal-hal tersebut ada-atau paling tidak-mungkin ada, karena objek penyelidikan filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.
Alasan filsafat untuk menerima kebenaran bukanlah kepercayaan, melainkan penyelidikan sendiri, hasil pikiran belaka. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu, tetapi ia tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Lapangan filsafat dan agama dalam beberapa hal mungkin sama, akan tetapi dasarnya amat berlainan. Tegasnya akan kita lihat perbedaan-perbedaan antara agama dan filsafat pada tabel berikut :
Agama
Filsafat
·       Agama berdasarkan wahyu ilahi, oleh karena itu agama sering juga disebut kepercayaan alasannya karena yang diwahyukan oleh Tuhan haruslah dipercayai;
·       Dalam agama untuk mendapatkan kebenaran hakiki itu manusia tidak hanya mencarinya sendiri, melainkan ia harus menerima hal-hal yang diwahyukan Tuhan, dengan kata singkat percaya atau iman;
·    Filsafat berdasarkan pikiran belaka




·       Dalam filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakiki, manusia harus mencarinya sendiri dengan mempergunakan alat yang dimilikinya berupa segala potensi lahir dan bathin,
Tabel 2 Perbedaan-perbedaan antara Agama dan Filsafat

b. Persamaan dan Titik Temu antara Agama dan Filsafat
Adapun titik temu antara agama dan filsafat adalah baik agama maupun filsafat pada dasarnya mempunyai kesamaan, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mencapai kebenaran yang sejati. Agama yang dimaksud di sini adalah agama Samawi, yaitu agama yang diwahyukan tuhan kepada nabi dan rosul-Nya.
Dengan demikian antara ilmu, filsafat dan agama sebenarnya mempunyai jalinan dan saling berhubungan satu sama lain yang memiliki kesamaan yaitu mencari hakikat kebenaran, meski ada beberapa perbedaan terutama yang berkaitan dengan objek forma, sumber, cara pandang, hasil serta alat ukurnya.
Titik temu dari ketiga disiplin ilmu itu adalah bahwa ilmu menggunakan pengamatan, eksperimen dan pengalaman inderawi kemudian filsafat berusaha menghubungkan penemuan-penemuan ilmu dengan maksud menemukan hakikat kebenaran dan Agama menentukan arah dalam mendapatkan kebenaran yang hakiki itu berlandaskan pada keyakinan dan keimanan.
4. Pembahasan tentang berbagai macam Aliran-aliran Filsafat dan Etika
a.  Aliran-aliran Filsafat
Selanjutnya persoalan tentang sumber pengetahuan manusia, yang kemudian melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Menurut Louis Q. Kattsof dalam buku yang sama mengatakan bahwa sumber pengetahuan manusia itu ada lima macam, yaitu [6]: (1) Empiris yang kemudian melahirkan aliran empirisme; (2) Rasio yang melahirkan aliran rasionalisme; (3) Fenomena yang melahirkan aliran fenomenologi; (4) Instuisi yang melahirkan aliran instuisme; dan (5) Metode ilmiah yang merupakan gabungan antara aliran rasialisme dan empirisme. Metode ilmiah inilah yang kemudian mewarnai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di seluruh universitas di dunia ini. Prof. Juhaya (2005) juga mengemukakan aliran Kritisisme Immanuel Kant, Idealisme, Positivisme, Evolusionisme, Materialisme, Pragmatisme, Filsafat Hidup Henri Bergson, dan Sekularisme
Uraian dari aliran-aliran tersebut yang merupakan pokok review buku ini, diberikan sebagai berikut:
·  Aliran Empirisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan itu adalah pengalaman inderawi. Tokoh aliran ini adalah John Locke (1632-1704), analogi dari aliran ini menyebutkan bahwa es itu membeku dan dingin, karena secara pengalaman inderawi es itu dapat dilihat bentuknya beku dan rasanya dingin. Dari disinilah dapat disimpulkan bahwa menurut aliran empirisme pengetahuan itu didapat dengan perantaraan inderawi atau pengalaman-pengalaman inderawi yang sesuai, tetapi aliran ini mempunyai kelamahan karena sebetulnya inderawi memiliki keterbatasan dan terkadang menipu. Dari kelemahan ini muncul aliran kedua yatiu aliran Rasionalisme.
·  Aliran Rasionalisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa akal adalah dasar dari kepastian pengetahuan. Tokoh aliran ini adalah Rene Descartes (1596 – 1650). Aliran ini muncul karena koreksi dari aliran Empirisme menurut kacamata aliran ini manusia akan sampai pada kebenaran semata-mata karena akal, inderawi menurut aliran Rasionalisme hanyalah merupakan bahan yang belum jelas, akal-lah yang kemudian mengatur bahan tersebut sehingga membentuk pengetahuan yang benar. Analogi menurut aliran ini adalah kenapa benda yang jauh akan kelihatan kecil ?, karena secara akal bayangan yang jatuh dimata akan kecil atau contoh analogi lain kenapa gula terasa pahit bagi orang yang demam, karena lidah orang yang sakit demam itu tidak normal.
Akal manusia merupakan salah satu potensi jiwa (rational soul) yang terdiri dari dua macam yaitu; (1) praktis yang bertugas mengendalikan badan dan mengatur tingkah laku, (2) teoritis khusus nerkenaan dengan persepsi dan epistemologi, karena akal praktis inilah yang menerima persepsi-persepsi inderawi dan meringkas pengertian-pengertian universal daripadanya dengan bantuan akal aktif, yang terhadap jiwa kita bagaikan matahari terhadap pandangan mata. Akal manusia bisa meningkat kea lam atas hingga berhubungan langsung dengan akal-akal yang tidak ada pada benda, sehingga ia bisa mengetahui obyek-obyek pemikiran sekaligus bahkan bisa menukik ke alam kesucian dan kenikmatan tinggi dan inilah kebahagiaan tertinggi.[7]     
·  Aliran Fenomenalisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan didasarkan pada sebab akibat yang merupakan hubungan yang bersifat niscaya dan ditampakan oleh sebuah gejala (Pehenomenon). Tokoh aliran ini adalah Imanuel Kant yaitu seorang filosof Jerman (abad ke-18) analogi dari aliran ini adalah tetang bagaimana memperoleh pengetahuan bahwa kuman itu menyebabkan penyakit tifus, orang yang menderita demam tifus disebabkan oleh kuman yang masuk dalam diri orang tersebut.
·  Aliran Instuisme, yatiu aliran yang berpendapat lahirnya pengetahuan yang lengkap dan utuh tidak hanya diperoleh melalui indera dan akal tetapi butuh juga instuisi utuk menangkap keseluruhan objek pengetahuan. Tokoh aliran ini adalah Henri Bergson (1859 – 1941), aliran ini mirip dengan aliran Iluminasionesme atau Teori Kasyf dalam ajaran Islam yaitu pengetahuan langsung dari Tuhan yang hanya bisa diterima apabila hatinya telah bersih. Pengetahuan itu bisa didapat melalui latihan atau “riyadhah”. Contoh dari intuisi atau pengetahuan tingkat tinggi ini yang dimiliki oleh Nabi SAW (atas izin Allah) dapat melihat atau mengetahui hal-hal yang ghaib, dapat mendengar orang yang disiksa di alam kubur, menghitung tiang-tiang mesjid Al Aqsha dan sebagainya.
·  Metode Ilmiah, perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan  merupakan hasil penggunaan secara sengaja suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang menggabungkan pengalaman dengan akal sebagai pendekatan bersama, dan menambahkan suatu cara baru untuk menilai penyelesaian-penyelesaian yang disarankan. Sifat yang menonjol dari metode ilmiah ialah digunakannya akal dan pengalaman yang disertai dengan sebuah unsur baru, yaitu hipotesis. Bila hipotesis dikukuhkan kebenarannya oleh contoh-contoh yang banyak jumlahnya, maka hipotesis tersebut dapat dipandang sebagai hukum.
·  Kritisisme Immanuel Kant, filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki kebatasan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Dengan isi utama dari kritisisme adalah gagasan  Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika.

Minggu, 16 Januari 2011

STRES DAN KONFLIK


(Pengertian, Unsur-unsur, Jenis, Sebab, Strategi penyelesainya dan Kaitan dengan Pendidikan Islam)

Oleh :
SUYONO
NING AISYAH

A.    PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Tidak dapat kita pungkiri bahwa seiring berkembangnya kebutuhan, seiring cepatnya mobilitas kehidupan banyak kita jumpai orang-orang disekitar kita yang tidak sanggup bertahan menghadapi kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam kehidupannya, bahkan tak luput mereka yang berhasil pun terkadang hanyut, takut kegagalan akan menimpanya. Orang-orang yang gagal, tertimpa musibah, tak mampu bersabar lantas keluh kesah pun menjadi semacam obat penawar kegelisahannya, walaupun itu tak membuatnya merubah keadaan menjadi lebih baik. Namun sebaliknya, membuat dia semakin tenggelam dalam kegagalan. Lalu timbulah penyakit dan masalah baru dalam dirinya, “stres”. Stres kerap melanda dalam kehidupan, terlebih di saat seperti ini, dimana kesibukan baik pada pekerjaan maupun keluarga, seolah tak ada putusnya. Berbagai masalah yang sering terjadi di dalam kehidupan terkadang membuat kita merasa terbebani dan menjadi stress. Stres memang suatu hal yang sulit dihindari, tapi bukan berarti hal tersebut tidak bisa diatasi
Selama kita hidup, stres tidak akan pernah bisa kita hindari. Terimalah bahwa dalam hidup kita selalu akan muncul yang namanya stres. Tidak ada seorangpun yang bisa secara total menghindari stres.
Begitu juga dengan konflik, tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
      2. Rumusan Masalah
              Dari fenomena di atas, terdapat beberapa fokus masalah yang penulis akan    paparkan, yaitu :
                                                           1
a.       Apa pengertian stress dan konflik.
b.      Unsur-unsur apa saja dalam stress dan konflik
c.       Jenis-jenis stress dan konflik
d.      Sebab-sebab apa saja pada stress dan konflik
e.       Bagaimana strategi penyelesaian stress dan konflik
f.       Bagaiamana mengatasi stress dan konflik dalam kaitan dengan pendidikan Islam
3. Tujuan Penulisan Makalah
Untuk menjawab beberapa focus permasalahan diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
a.       Untuk mengetahui pengertian stress dan konflik
b.      Untuk mengetahui unsure-unsur stress dan konflik
c.       Untuk mengetahui jenis-jenis stress dan konflik
d.      Untuk mengetahui sebab-sebab stress dan konflik
e.       Untuk mengetahui strategi penyelesaian dalam stress dan konflik
f.       Untuk mengetahui mengatasi stress dan konflik dalam kaitan dengan pendidikan Islam








                                                                  2

B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Stres dan Konflik
a.       Pengertian Stres
Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stres yang berlebihan dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan, yang akhirnya seseorang tersebut dapat mengganggu kinerja. Mereka yang stress menjadi mudah marah, dan agresi, tidak relaks, atau menunjukkan sikap tidak kooperatif. Dan pada akhirnya seorang yang stress imannya tidak kuat pelariannya adalah minum-minuman keras dan atau merokok secara berlebihan.  
Sedangkan menurut Dr.AA.Anwar Abu Mangku Negara stress kerja adalah perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan.  
Berdasarkan definisi di atas, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Seperti yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja..
Stres merupakan proses dalam diri individu ketika menghadapi suatu ancaman  atau penderitaan, dan bentuknya berupa respon-respon fisiologis, emosi, kognitif, atau pun perilaku. Pemicu munculnya stres ini ada hal-hal
  T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2001, Edisi 2, hal.200
  Dr.AA.Anwar Abu mangku Negara, “Manajemen Sumber Daya manusia Perusahaan” peneribit Rosda Karya Bandung, 2009, hal.157.
                                                                              2
yang negatif, dan bisa pula hal-hal yang positif. Peristiwa-peristiwa yang sifatnya negatif misalnya bila seseorang harus menghadapi krisis hidup yang berkepanjangan. Peristiwa yang sifatnya positif misalnya, ketika orang dihadapkan pada suatu peristiwa penting dalam hidup yang dapat mengubah kehidupan seperti  menikah, dapat undian, dan sebagainya. Tidak seorang pun yang hidup di dunia ini bebas dari stres. Bahkan bila tidak mendapatkan stres, kadangkala orang malah mencari situasi yang penuh stres. Misalnya seorang pendaki gunung. Dengan stres ini orang akan tertantang untuk menghadapi situasi, sehingga akan mendapatkan sesuatu sesuatu yang baru.   
 Menurut T. Handoko, Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Sedangkan berdasarkan definisi kerjanya, pengertian dari stress adalah :
a.  Suatu tanggapan adaptif, ditengahi oleh perbedaan individual dan atau      proses psikologis, yaitu suatu konsekuensi dari setiap kegiatan ( lingkungan ), situasi atau kejadian eksternal yang membebani tuntunan psikologis atau fisik yang berlebihan terhadap seseorang.
 b.  Sebagai suatu tanggapan penyesuaian, dipengaruhi oleh perbedaan individu dan atau proses psikologis yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar ( lingkungan ) situasi atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan pada seseorang.
Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi  lingkungannya sebagai hasilnya, pada diri para karyawan berkembang berbagai macam gejala
   Suryanto ”Stress Management Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
 T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2001, Edisi 2, hal.200

                                                          3
stress yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Stress dapat juga membantu atau fungsional, tetapi juga dapat berperan salah atau merusak prestasi kerja. Secara sederhana hal ini berarti bahwa stress mempunyai potensi untuk mendorong atau mengganggu pelaksanaan kerja, tergantung seberapa besar tingkat stress yang dialami oleh karyawan tersebut.  Adapun menurut Robbins stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang.  
             Dengan demikian pengertian stres mengacu dari berbagai pendapat diatas adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja seseorang.
  2. Pengertian konflik
Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang  diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan dengan kenyataan apa yang diharapkan.. Konflik dapat didefinisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan atau antagonistic antara dua atau lebih pihak. Konflik organisasi adalah ketidak sesuaian antara dua atau lebih antara anggota-anggota atau kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya-sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegitan  kerja/ atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai atau persepsi. 
Selain definisi konflik diatas,  banyak defrinisi yang dikemukakan oleh para tokoh adalah sebagai berikut :
 T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 1997, hal.201-202

Dr.AA.Anwar Abu mangku Negara, “Manajemen Sumber Daya manusia Perusahaan” peneribit Rosda Karya Bandung, 2009, hal.155.
T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2001, Edisi 2, hal.236               4
a.Menurut Nardjana, Konflik adalah akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.
b.Menurut Killman dan Thomas, konflik merupakan kondisi terjadinya  ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitaskerja.
c.Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn mendefiniskan konflik (dalam ruang lingkup organisasi) adalah:Conflict is a situation which two or more people disagree over issues of organisational substance and/or experience some emotional antagonism with one another,yang kurang lebih memiliki arti bahwa konflik adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.
d.Stoner,  Konflik organisasi adalah mencakup ketidaksepakatan soal alokasi sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai, persepsi, atau kepribadian.
e.Daniel Webster mendefinisikan konflik sebagai berikut:
1). Persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok   satu sama lain. 2). Keadaan atau perilaku yang bertentangan. 
2.    Unsur-unsur stress dan konflik
       a. Unsur-unsur Stres 
Jurnal Manejemen “Manejemen Konflik: Definisi, ciri, Sumber, dampak dan strategi mengatasi konflik.(http://jurnal-sdm-blogspot.com/search/label/Manajemen Konflik.)
                                                                     5
Bila ditinjau dari peristiwa stres, dapatlah diidentifikasi secara garis besar unsur-unsur stres yang terkandung  di dalamnya. antara lain:
1.      Stressor, unsur yang merupakan sumber dari stres. Betuknya dapat                     struktur sosial, peristiwa hidup, lingkungan fisik,
2.      The Stressed. Yaitu orang yang mengalami stres. Kondisi stres  ini dapat dilihat dari respon individu terhadap sumber stres. Respon ini bisa psikologik, dan bisa pula fisiologik.
3.      Transaction. Unsur ini menggambarkan adanya hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara orang yang sedang stres dengan keadaan yang penuh stres. Melalui transaksi ini akan memungkinkan seseorang melakukan usaha penyesuaian diri yang terus-menerus antara orang yang mengalami stres dengan hal-hal yang mendatangkan stres. 

b. Unsur-unsur Konflik
Menurut Wijono Ciri-ciri Konflik adalah : 1). Setidak-tidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok yang terlibat dalam suatu interaksi yang saling bertentangan. 2). Paling tidak timbul pertentangan antara dua pihak secara perseorangan maupun kelompok dalam mencapai tujuan, memainkan peran dan ambigius atau adanya nilai-nilai atau norma yang saling berlawanan. 3). Munculnya interaksi yang seringkali ditandai  oleh  gejala-gejala perilaku yang direncanakan untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain agar dapat memperoleh keuntungan.4).Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut-larut. 5). Munculnya ketidakseimbangan akibat dari usaha masing-masing pihak yang terkait dengan kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan, kekuasaan, harga diri, prestise dan sebagainya.  
    Suryanto ”Stress Management” Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
 Jurnal Manejemen “Manejemen Konflik: Definisi, ciri, Sumber, dampak dan strategi mengatasi konflik.(http://jurnal-sdm-blogspot.com/search/label/Manajemen Konflik.)
                                                                   6
3.Sebab-Sebab Stres dan Konflik
   a. Sebab-sebab Stres
T. Hani Handoko memaparkan  ada dua kategori penyebab terjadinya stress,  yaitu on-the job dan off-the job.
1.      Penyebab stress dari dalam ( on-the job).
Sebab-sebab stress dari dalam adalah :
a.       Beban kerja yang berlebihan.
b.      Tekanan atau desakan waktu.
c.       Kualitas supervise yang jelek.
d.      Iklim politis yang tidak  nyaman.
e.       Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai.
f.       Wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab.
g.      Kemenduaan peranan.
h.      Frustasi.
i.        Konflik antar probadi atau kelompok.
j.        Perbedan anatara nilai-nilai perusahaan dan karyawan.
k.      Berbagai bentuk perubahan.
2.      Penyebab stress dari luar (of-the job)
      Penyebab stress dari luar perusahaan sebagai berikut :
a.       Kekuatan financial
b.      Masalah yang bersangkutan dengan anak.
c.       Masalah-masalah fisik.
d.      Masalah-masalah perkawainan (misalnya paerceraian).
e.       Peruabahan tempat tinggal
f.       Dll.
T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2001, Edisi 2, hal.201
                                                                                   7

            Sedangkan Cooper dan Davidson  membagi penyebab stres dalam pekerjaan menjadi dua, yakni: 1) Group stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial dari sesama karyawan di dalam perusahaan. 2) Individual stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan peran.
Penyebab stress menurut Dr.AA.Anwar Abu mangku Negara antara lain beban kerja yang dirasakan terlalu berat,waktu kerja yang mendesak, kualitas pengawasan yang rendah, iklim kerja yang tidak sehat, otoritas kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab, konflik kerja, perbedaan nilai antara karyawan yang frustasi dalam kerja. 

b.      Faktor penyebab konflik

Faktor penyebab konflik adalah :

·         Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.                                                               
·         Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
·         Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
·         Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
            Menurut Stevenin  ada beberapa faktor yang mendasari munculnya konflik antar pribadi dalam organisasi misalnya adanya: 1). Pemecahan masalah secara sederhana. Fokusnya tertuju pada   penyelesaian masalah dan orang-orangnya tidak mendapatkan perhatian utama

Dr.AA.Anwar Abu mangku Negara, “Manajemen Sumber Daya manusia Perusahaan” peneribit Rosda Karya Bandung, 2009, hal.156
                                                           8

2). Penyesuaian/kompromi. Kedua pihak bersedia saling memberi dan menerima, namun tidak selalu langsung tertuju pada masalah yang sebenarnya. Waspadailah masalah emosi yang tidak pernah disampaikan kepada manajer. Kadang-kadang kedua pihak tetap tidak puas.
3). Tidak sepakat. Tingkat konflik ini ditandai dengan pendapat yang diperdebatkan. Mengambil sikap menjaga jarak. Sebagai manajer, manajer perlu memanfaatkan dan menunjukkan aspek-aspek yang sehat dari ketidaksepakatan tanpa membiarkan adanya perpecahan dalam kelompok.
4). Kalah/menang. Ini adalah ketidaksepakatan yang disertai sikap bersaing yang amat kuat. Pada tingkat ini, sering kali pendapat dan gagasanorang lain kurang dihargai. Sebagian di antaranya akan melakukan berbagai macam cara untuk memenangkan pertarungan.5). Pertarungan, Ini adalah konflik “penembak misterius”. Orang-orang yang terlibat di dalamnya saling menembak dari jarak dekat kemudian mundur untuk menyelamatkan diri. Bila amarah meledak, emosi pun menguasai akal sehat.Orang-orang saling berselisih. 6) Keras kepala. Ini adalah mentalitas “dengan caraku atau tidak sama sekali”.Satu-satunya kasih karunia yang menyelamatkan dalam konflik ini adalah karena biasanya hal ini tetap mengacu pada pemikiran yang logis. Meskipun demikian, tidak ada kompromi sehingga tidak ada penyelesaian.
7). Penyangkalan. Ini adalah salah satu jenis konflik yang paling sulit diatasi karena tidak ada komunikasi secara terbuka dan terus-terang. Konflik hanya dipendam. Konflik yang tidak bisa diungkapkan adalah konflik yang tidak bisa diselesaikan.
 
T. Handoko menyebutkan  penyebab konflik adalah sebagai berikut :
o   Komunikasi, salah pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa yang sulit dimengerti, atau informasiyang mendua dan tidak lengkap, serta individu manajer yang tidak konsisten.

 Jurnal Manejemen “Manejemen Konflik: Definisi, ciri, Sumber, dampak dan strategi mengatasi konflik.(http://jurnal-sdm-blogspot.com/search/label/Manajemen Konflik.)
                                                                  9
o   Struktur, Pertarungan kekuasaan antar departemen dengan kepentingan atau system penilaian yang bertentangan, persangian untuk memperebutkan summer-daya yang terbatas, atau saling ketergantungan dua kelompok kerja atau lebih untuk mencapai tujuan mereka.
o   Pribadi, ketidaksesuaian tujuan atau nilai-nilai social pribadikaryawan dengan prilaku yang diperankan pada jabatan mereka, dan perbedaan dalam nilai-nilai atau persepsi. 
4. Jenis-jenis Stres dan Konflik
     a.Jenis-jenis Stres.
    Bila ditinjau tipenya,  stres dalam diri seseorang itu  bisa dikategori dalam beberapa tipe berikut:
·         Frustrasi. Frustrasi  terjadi bila seseorang merasa terancam atau terhambat dalam mencapai tujuan. Bentuk umum yang seringkali terjadi dari tipe ini adalah kegagalan seseorang atau kehilangan kesempatan untuk meraih sesuatu yang diinginkan.
·         Konflik.  Konflik terjadi bila seseorang dihadapkan pada dua atau lebih persoalan secara bersama-sama. Biasanya tingginya konflik berhubungan dengan tingginya tingkat kecemasan, depresi dan simptom-simptom fisik.     
·         Perubahan. Perubahan hidup biasanya menunjukkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga mereka dituntut untuk melakukan penyesuaian diri. Tidak semua orang yang mengalami perubahan hidup mudah menyesuaikan diri. Kalau penyesuaian diri berhasil tidak masalah, tetapi bila penyesusian diri itu gagal, problema baru akan timbul. Tidak jarang perubahan hidup menjadikan seseorang semakin menderita. Biasanya orang yang tidak mau berubah itu umumnya orang yang tidak mau direpotkan oleh perubahan itu sendiri.
T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2001, Edisi 2, hal.201                10
·         Tekanan (Pressure)Tekanan (pressure) biasanya berupa harapan-harapan atau kebutuhan-kebutuhan yang harus dicapai seseorang. Biasanya tekanan ini ini muncul karena orang dituntut baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain untuk melakukan suatu kegiatan yang menjadi tanggung jawab kita.  
           b.Jenis-jenis konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 5 macam :
·         konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
·         konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
·         konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
·         konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
·         konflik antar atau tidak antar agama
·         konflik antar politik.
Menurut Wijono ada tiga jenis konflik yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai (goal conflict), yaitu: 1) Approach-approach conflict, dimana orang didorong untuk melakukan pendekatan positif terhadap dua persoalan atau lebih, tetapi tujuan-tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain. 2) Approach-Avoidance Conflict, dimana orang didorong untuk melakukan pendekatan terhadap persoalan-persoalan yang mengacu pada satu tujuandan pada waktu yang sama didorong untuk melakukan terhadap persoalan-persoalan tersebut dan tujuannya dapat mengandung nilai positif dan negatif bagiorang yang mengalami konflik tersebut. 3) Avoidance-Avoidance Conflict, dimana orang didorong untuk menghindari dua atau lebih hal yang negatif tetapi tujuan-tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain. Dalam hal ini, approach-approach conflict merupakan jenis konflik yang mempunyai resiko paling kecil dan mudah diatasi, serta akibatnya tidak begitu fatal.
 Suryanto ”Stress Management” Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
                                                       11

T. Hani Handoko memaparkan ada 5 jenis konflik dalam kehidupan organisasi, yaitu :
·         Konflik dalam diri individu, yang terjadi bila seseorang individu menghadapi ketidakpastian terhadap pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya.
·         Konflik antar individu dalam organisasi  yang sama, dimana hal ini sering diakibatkan oleh perbedaa-perbedaan kepribadian.
·         Konflik antar individu dan kelompok, yang berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka.
·         Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, karena terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok
·         Konflik antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam system perekonomian suatu Negara. 
5.  Cara Mengatasi Stres dan Konflik
*       a. Cara mengatasi stress
             Berikut ini beberapa tipe yang bisa dilakukan apabila seseorang menghadapi stres.
·         Ubahlah persepsi. Berilah makna baru terhadap suatu situasi. Bila seseorang mengalami kegagalan, katakan dalam diri orang tersebut bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru, dan bisa mengatasi kegagalan tersebut.
·         Ubahlah perilaku.Bila pekerjaan membuat stres dan akhirnya dapat menyebabkan perasaan yang tak nyaman atau tertekan, ubahlah perilaku kerja anda. Terimalah perubahan yang terjadi, dan beradaptasilah dengan situasi pekerjaan itu. 
T.Tani Handoko “Manajemen” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2003, Edisi 2, hal.349
                                                     
12
Beberapa tips berikut dapat kita coba untuk mengantisipasi dan mengatasi stres :
1.      Kenali diri kita agar tahu hal-hal apa saja yang bisa membuat dan memicu kita menjadi stres.Misalnya, ditegur atasan membuat kita merasa terganggu, udara panas, pekerjaan yang menumpuk dan sebagainya. Dengan mengetahuinya kita akan mampu menghandel diri sendiri menjadi lebih baik agar tidak ditegur bos, mampu mengatur pekerjaan agar tidak menumpuk, dan lain sebagainya
2.      Irama hidup yang teratur. Buatlah rencana harian, mingguan, bulanan dan cobalah konsisten dengan rencana tersebut agar apa yang kita inginkan dapat terwujud.
3.      Hindari spekulasi, Bila kita adalah orang yang sukar menerima hasil negatif, jangan berspekulasi. Lakukan saja hal-hal yang pasti hasilnya, sehingga hidup kita akan menjadi lebih tenang dan tidak khawatir.
4.      Membiasakan diri selalu hidup sehat.Hidup sehat berarti memiliki pola hidup yang sehat, hindari pemicu gangguan seperti makanan berlemak, , rokok, begadang, minuman keras, dan sebagainya. Gaya hidup yang tidak sehat membuat hidup kita rentan terhadap gangguan stress.
5.      Olahraga teratur, dengan berolahraga secara teratur akan melancarkan peredaran darah sehingga Anda pun menjadi lebih segar dan sehat. Tidak hanya itu, nutrisi yang dikonsumsi akan mengalir ke dalam tubuh lebih baik.
6.      Mendekatkan diri kepada TuhanYME.Ini poin terpenting dari semua poin di atas. Pasrah dan berserah diri kepada Tuhan YME akan membuat Anda lebih bisa menikmati hidup ini tanpa harus khawatir akan terkena stress.Yang tak boleh dilupakan juga adalah senantiasa berfikir positif terhadap segala sesuatu hal akan membuat jiwa dan rohani kita menjadi lebih sehat.  
             Menurut Dr.AA.Anwar Abu mangku Negara ada 4 pendekatan terhadap stress kerja, yaitu :                                     
a.       Pendekatan dukungan social, dilakukan melalui aktifitas yang bertujuan memberikan kepuasan social kepada karyawan,
                                                             13
b.      Pendekatan melalui meditasi, yaitu berkonsentrasi kea lam pikiran, mengendorkan kerja otot, dan menenangkan emosi
c.       Pendekatan melaluiBiofeedback, yaitu pendekatan yang dilakukan melalui bimbingan medis.
d.      Pendekatan kesehatan pribadi, yaitu pendekatan preventif.Mendeteksi penyebab stress dan bentuk reaksinya ada 3 pola  dalam menghadapi
e.       stress, yaitu pola sehat, pola harmonis dan pola patologis. 
Sedangkan menurut T Handoko cara untuk mgurangi stress adalah dengan menangani penyebab-penyebab stress, merancang kembali pekerjaan-pekerjaan sehingga para karyawan mempunyai pilihan keputusan lebih banyak dan wewenang untuk melaksanakan tanggung jawab mereka.
Lima terapi stress dalam Al-qur;an adalah sebagai berikut :
·         Mengerjakan Shalat dan Istiqamah dalam Shalat.
Hal ini ditunjukan pada Firman Allah SWT dalam surat Al-Ma’arij  ayat 22,23, dan 34.

Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, [70:22].
Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, [70:23].
Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. [70:34]  
     Yang menjadi pertanyaan, shalat seperti apa yang dapat mencegah kita dari penyakit tersebut? Tentu saja shalat yang dilandasi dengan keimanan dan pengetahuan yang benar ttg shalat itu sendiri. Orang yang senantiasa mendirikan shalat, bukan hanya melaksanakan saja serta mengerti kandungan do’a di dalam shalat itu sendiri. Shalat tidak hanya sebagai rutinitas penggugur kewajiban, walau itu pun benar. Namun hendaknya kita pun tahu kebutuhan kita akan shalat. Cita-cita kita akan shalat. Adakah cita-
 

Dr.AA.Anwar Abu mangku Negara, “Manajemen Sumber Daya manusia Perusahaan” peneribit Rosda Karya Bandung, 2009, hal.156                                  14
cita kita dalam shalat? Tentu saja ada! Seperti hal umum lainnya, seperti kegiatan lainnya yang mempunyai cita-cita ke depan, tujuan yang hendak kita capai. Begitu pun dengan shalat, kita harus memiliki tujuan dan cita-cita ke depan. Kemudian dia menjaga, istiqamah dalam shalatnya tersebut.
                                                
·         Membiasakan bersikap peduli, Allah berfirman dalam surat Al-Ma’arij :
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, [70:24].
Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), [70:25].
           Hendaknya senantiasa kita rajin memperhatikan mereka yang berada dibawah kita. “Undur man huwa aspala minkum walaa tandzur man huwa fauqakum,” Lihatlah mereka yang (keadaan dunianya) berada dibawah kita dan janganlah melihat mereka yang (keadaan dunianya) berada diatas kita. Begitulah Hadits menyarankan. Kenapa? Agar kita terhindar dari penyakit merasa selalu kekurangan dan agar kita tidak menyepelekan ni’mat yang telah diberikan Allah pada kita serta tentu saja kita terhindar dari penyakit keluh-kesah yang berimbas pada penyakit stres. Sekecil apapun harta yang kita miliki, jika kita membandingkannya dengan orang yg lebih rendah status sosialnya dengan kita, tentu kita akan merasa kaya, dan mendorong kita untuk senantiasa berbagi dengan mereka. Jika hal ini kita rasakan “merasa kaya” lalu menyisihkan bagian tertentu dari harta kita untuk mereka, Insya Allah kita terhindar dari penyakit ini.

·         Berdzikir dan mengingat-ingat hari pembalasan.

Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, [70:26].
Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. [70:27].
Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). [70:28].
                                                    15
          Sekecil dan sebesar apapun perbuatan kita, sekecil dan sebesar apapun yang kita lakukan, semuanya akan diperhitungkan dihari pembalasan nanti. Orang-orang yang senantiasa mengingat hari akhir, hari dimana segala perbuatan dipertanggungjawabkan tentu dia tidak akan merasa segala kegagalannya di dunia begitu berarti, karena yang dia harapkan adalah balasan disisi Allah dihari akhir nanti.
·         Memelihara syahwat.


Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, [70:29].
Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [70:30].
Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [70:31].
Nafsu adalah suatu hal yang normal ada pada setiap manusia. Islam tidak mengajarkan untuk membunuh nafsu, namun Islam mengatur bagaimana agar nafsu tersebut termenej dengan baik, agar tidak keluar dari jalurnya, agar tidak melampaui batas yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang mampu memenej syahwat dan menyalurkannya pada jalan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya (pernikahan) dia akan merasa lebih aman, tenang dan tentram. Hidupnya tidak dibayangi ketakutan dan rasa bersalah telah melampiaskan syahwatnya ditempat yang bukan semestinya. Orang yang merasa aman, tenang, dan tentram tentu dia akan terhindar dari penyakit stres ini.
·         Menjaga Janji dan amanat.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. [70:32].
Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. [70:33]. 
Al-Qur’an dan terjemahannya, Departemen Agama RI, Gema Risalah Press, Bandung
                                                       16
2.Cara mengatasi konflik
Menurut Stevenin terdapat lima langkah meraih kedamaian dalam konflik. Apa pun sumber masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi kesulitan sebagai berikut: 1).Pengenalan, Kesenjangan antara keadaan yang ada diidentifikasi dan bagaimana keadaan yang seharusnya. Satu-satunya yang menjadi perangkap adalah kesalahan dalam mendeteksi (tidak mempedulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak ada).
           2). Diagnosis, Inilah langkah yang terpenting. Metode yang benar dan telah diuji mengenai siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana berhasil dengan sempurna. Pusatkman perhatian pada masalah utama dan bukan pada hal yang sepele.3).Menyepakatisuatu solusi, Kumpulkanlah masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saringlah penyelesaian yang tidak dapat diterapkan atau tidak praktis. Jangan sekali-kali menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik. Carilah yang terbaik.4).Pelaksanaan,Ingatlah bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian. Hati-hati, jangan biarkan pertimbangan ini terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok.5).EvaluasiPenyelesaian itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru. Jika penyelesaiannya tampak tidak berhasil, kembalilah ke langkah-langkah sebelumnya dan cobalah lagi.
              Stevenin juga memaparkan bahwa ketika mengalami konflik, ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan di tengah-tengah konflik, yaitu:
1). Jangan hanyut dalam perebutan kekuasaan dengan orang lain. Ada pepatah dalam masyarakat yang tidak dapat dipungkiri, bunyinya: bila wewenang bertambah maka kekuasaan pun berkurang, demikian pula sebaiknya.2). Jangan terlalu terpisah dari konflik. Dinamika dan hasil konflik dapat ditangani secara paling baik dari dalam, tanpa melibatkan pihak ketiga.3). Jangan biarkan visi dibangun oleh konflik yang ada. Jagalah cara pandang dengan berkonsentrasi pada masalah-masalah penting. Masalah yang paling mendesak belum tentu merupakankesempatanyangterbesar.
              Wijono strategi mengatasi konflik, yaitu:
1. Strategi Mengatasi Konflik Dalam Diri Individu (Intraindividual Conflict), untuk mengatasi hal ini diperlukan paling tidak tujuh strategi, yaitu:
                                                                     17
            a).Menciptakan kontak dan membinahubungan.b)Menumbuhkanrasapercaya dan penerimaan. c).Menumbuhkan kemampuan /kekuatan diri sendiri. d).Menentukan tujuan. e).Mencari beberapa alternatif. f). Memilih alternatif. g).Merencanakan pelaksanaan jalan keluar.
            2. Strategi Mengatasi Konflik Antar Pribadi (Interpersonal Conflict)
Untuk mengatasi konflik dalam diri individu diperlukan paling tidak tiga strategi yaitu:
                        a) Strategi Kalah-Kalah (Lose-Lose Strategy) 
                        Beorientasi pada dua individu atau kelompok yang sama-sama kalah. Biasanya individu atau kelompok yang bertikai mengambil jalan tengah (berkompromi) atau membayar sekelompok orang yang terlibat dalam konflik atau menggunakan jasa orang atau kelompok ketiga sebagai penengah. Dalam strategi kalah-kalah, konflik bisa diselesaikan dengan cara melibatkan pihak ketiga bila perundingan mengalami jalan buntu. Maka pihak ketiga diundang untuk campur tangan oleh pihak-pihak yang berselisih atau barangkali bertindak atas kemauannya sendiri. Ada dua tipe utama dalam campur tangan pihak ketiga yaitu:  1).Arbitrasi (Arbitration),Arbitrasi merupakan prosedur di mana pihak ketiga mendengarkan kedua belah pihak yang berselisih, pihak ketiga bertindak sebagai hakim dan penengah dalam menentukan penyelesaian konflik melalui suatu perjanjian yang mengikat.  2). Mediasi (Mediation), Mediasi dipergunakan oleh Mediator untuk menyelesaikan konflik tidak seperti yang diselesaikan oleh abriator, karena seorang mediator tidak mempunyai wewenang secara langsung terhadap pihak-pihak yang bertikai dan rekomendasi yang diberikan tidak mengikat.                                 
                    b). Strategi Menang-Kalah(Win-Lose Strategy),
                     Dalam strategi menang anda kalah (win lose strategy), menekankan adanya salah satu pihak yang sedang konflik mengalami kekalahan tetapi yang lain memperoleh kemenangan. Beberapa cara yang digunakan untuk menyelesaikan konflik dengan win-lose strategy dapat melalui: 1). Penarikan diri, yaitu proses penyelesaian konflik antara dua atau lebih pihak yang kurang puas sebagai akibat dari ketergantungan tugas (task independence). 2). Taktik-taktik penghalusan dan damai, yaitu dengan melakukan tindakan perdamaian dengan pihak lawan untuk menghindari
18
                     terjadinya konfrontasi terhadap perbedaan dan kekaburan dalam batas-batas bidang kerja (jurisdictioanal ambiquity). 3). Bujukan, yaitu dengan membujuk pihak lain untuk mengubah posisinya untuk mempertimbangkan informasi-informasi faktual yang relevan dengan konflik, karena adanya rintangan komunikasi (communication barriers). 4). Taktik paksaan dan penekanan, yaitu menggunakan kekuasaan formal dengan menunjukkan kekuatan (power) melalui sikap otoriter karena dipengaruhi oleh sifat-sifat individu (individual traits). 5). Taktik-taktik yang berorientasi pada tawar-menawar dan pertukaran persetujuan sehingga tercapai suatu kompromi                     yang dapat diterima oleh dua belah pihak, untuk menyelesaikan konflik yang berkaitan dengan persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources) secara optimal bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
                 c).StrategiMenang-Menang(Win-WinStrategy),
                     Penyelesaian yang dipandang manusiawi, karena menggunakan segala pengetahuan, sikap dan keterampilan menciptakan relasi komunikasi dan interaksi yang dapat membuat pihak-pihak yang terlibat saling merasa aman dari ancaman, merasa dihargai, menciptakan suasana kondusif dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi masing-masing dalam upaya penyelesaian konflik. Jadi strategi ini menolong memecahkan masalah pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, bukan hanya sekedar memojokkanorang. Strategi menang-menang jarang dipergunakan dalam organisasi dan industri, tetapi ada 2 cara didalam strategi ini yang dapat dipergunakan sebagai alternatif pemecahan konflik interpersonal yaitu:
1). Pemecahan masalah terpadu (Integrative Problema Solving) Usaha untuk menyelesaikan secara mufakat atau memadukan kebutuhan-kebutuhan kedua belah pihak. 2). Konsultasi proses antar pihak (Inter-Party Process Consultation) Dalam penyelesaian melalui konsultasi proses, biasanya ditangani oleh konsultan proses, dimana keduanya tidak mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan konflik dengan kekuasaan atau menghakimi salah satu atau kedua belah pihak yang terlibat konflik.
  1. Strategi Mengatasi Konflik Organisasi (Organizational Conflict)
    Ada beberapa strategi yang bisa dipakai untuk mengantisipasi terjadinya konflik organisasi diantaranya adalah: a). Pendekatan Birokratis (Bureaucratic Approach).
19
Konflik muncul karena adanya hubungan birokratis yang terjadi secara vertikal dan untuk menghadapi konflik vertikal model ini, manajer cenderung menggunakan struktur hirarki (hierarchical structure) dalam hubungannya secara otokritas. Konflik terjadi karena pimpinan berupaya mengontrol segala aktivitas dan tindakan yang dilakukan oleh bawahannya. Strategi untuk pemecahan masalah konflik seperti ini biasanya dipergunakan sebagai pengganti dari peraturan-peraturan birokratis untuk mengontrol pribadi bawahannya. Pendekatan birokratis (Bureaucratic Approach) dalam organisasi bertujuan mengantisipasi konflik vertikal (hirarkie) didekati dengan cara menggunakan hirarki struktural (structural hierarchical)
b) Pendekatan Intervensi Otoritatif Dalam Konflik Lateral (Authoritative Intervention in Lateral Conflict). Bila terjadi konflik lateral, biasanya akan diselesaikan sendiri oleh pihak-pihak yang terlibat konflik. Kemudian jika konflik tersebut ternyata tidak dapat diselesaikan secara konstruktif, biasanya manajer langsung melakukan intervensi secara otoratif kedua belah pihak.
c) Pendekatan Sistem (System Approach). Model pendekatan perundingan menekankan pada masalah-masalah kompetisi dan model pendekatan birokrasi menekankan pada kesulitan-kesulitan dalam kontrol, maka pendekatan sistem (system Approach) adalah mengkoordinasikan masalah-masalah konflik yang muncul. Pendekatan ini menekankan pada hubungan lateral dan horizontal antara fungsi-fungsi pemasaran dengan produksi dalam suatu organisasi.
d) Reorganisasi Struktural (Structural Reorganization). Cara pendekatan dapat melalui mengubah sistem untuk melihat kemungkinan terjadinya reorganisasi struktural guna meluruskan perbedaan kepentingan dan tujuan yang hendak dicapai kedua belah pihak, seperti membentuk wadah baru dalam organisasi non formal untuk mengatasi konflik yang berlarut-larut sebagai akibat adanya saling ketergantungan tugas (task interdependence) dalam mencapai kepentingan dan tujuan yang berbeda sehingga fungsi organisasi menjadi kabur.
5.  Cara mengatasi  Stres dan Konflik yang dikaitkan dengan pendidikan Islam.
                Kita ketahui bersama bahwa dalam suatu lembaga pendidikan komponen-komponen lembaga pendidikan pasti akan mengalami stress dan konflik. Suatu
20
       lembaga perlu adanya konflik, namun bukan berarti suatu lembaga harus terus menerus konflik. Bebarapa cara untuk mengatasi stress dan konflik dalam lembaga pendidikan, yaitu :
a.       Memperjelas tugas masing-masing komponen lembaga pendidikan yang sesuai dengan job diskription. Dengan tugas yang jelas setiap komponen lembaga akan berusaha semaksimal mungkin menuntaskan tugas dan tidak mengerjakan tugas milik temannya. Sering kali terjadi konflik karena salah pengertian akan tugas  masing-masing komponen. Guru yang terlalu banyak menerima beban akan mengalami stress dengan stress tersebut akan merugikan terhadap lembaga.
b.      Memberikan penjelasan kepada setiap  komponen lembaga untuk bekerja dengan hati-hati, dan meminta saran kepada teman kerja atau kepala Madarasah apabila terjadi permasalahan yang menyangkut lembaga. Jangan sampai terjadi masalah keluarga dibawa ke Madrasah sebab nantinya yang akan menjadi sasaran kemarahan adalah anak didik dan mengakibatkan kurang harminisnya hubungan antar sesame komponen lemabaga pendidikan
c.       Mendekatkan diri kepada Allah SWT.sebab tidak ada orang didunia ini kan lepas dari stress dan konflik. Dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan bisa mengobati stress dan konflik kita.












21
C. KESIMPULAN
    1. Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang  diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan dengan kenyataan apa yang diharapkan.
    2. Unsur-unsur Stres, yaitu:  Stressor, The Stressed, Transaction. Unsur-unsur Konflik, yaitu:1). Setidak-tidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok yang terlibat dalam suatu interaksi yang saling bertentangan. 2). Paling tidak timbul pertentangan 3). Munculnya interaksi yang seringkali ditandai  oleh  gejala-gejala perilaku yang direncanakan untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain agar dapatmemperolehkeuntungan.4).Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut-larut. 5). Munculnya ketidakseimbangan
            3. Sebab-sebab Stres, yaitu : Penyebab stress dari dalam ( on-the    job)    dan    penyebab stress dari luar (of-the job). Faktor penyebab konflik adalah : 1).Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. 2).Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.3).Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. 4). Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
                          4. Jenis-jenis Stres. Yaitu : a) Frustrasi. b) Konflik.  c) Perubahan. d)Tekanan (Pressure). Konflik dibedakan menjadi 5 macam : a) Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)). 2) Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank). 3) Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). 4). Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara). 5) Konflik antar atau tidak antar agama.
          5. Cara mengatasi stress ada dua, yaitu : a)  Ubahlah persepsi. b) Ubahlah
22
               perilaku. Lima langkah mengatasi  dalam konflik. Apa pun sumber masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi kesulitan yaitu : a). Pengenalan . b). Diagnosis, c).Menyepakatisuatu solusi. d) Pelaksanaan.e)Evaluasi
           6. Cara mengatasi stres dan konflik yang dikaitkan dengan lembaga pendidikan, yaitu :  a).Memperjelas tugas masing-masing komponen lembaga pendidikan yang sesuai dengan job diskription. b).Memberikan penjelasan kepada setiap  komponen lembaga untuk bekerja dengan hati-hati, dan meminta saran kepada teman kerja atau kepala Madarasah apabila terjadi permasalahan yang menyangkut lembaga. c).Mendekatkan diri kepada Allah SWT.sebab tidak ada orang didunia ini kan lepas dari stress dan konflik.













23

DAFTAR PUSTAKA
T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2001, Edisi 2
Dr.AA.Anwar Abu mangku Negara, “Manajemen Sumber Daya manusia Perusahaan” peneribit Rosda Karya Bandung, 2009,
Suryanto ”Stress Management” Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

J
urnal Manejemen “Manejemen Konflik: Definisi, ciri, Sumber, dampak dan strategi mengatasi konflik.(http://jurnal-sdm-blogspot.com/search/label/Manajemen Konflik.)
T.Tani Handoko “Manajemen Personalia dan Sumberdaya manusia” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2001, Edisi 2,
Robbins, Stephen P. 1996. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta:PTPrenhallindo                                                                             

T.Tani Handoko “Manajemen” Penerbit    Universitas    Gajah    Mada, Yoqyakarta 2003, Edisi 2, Al-Qur’an dan terjemahannya, Departemen Agama RI, Gema Risalah Press, Bandung